
| endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-3 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra |
|
|
|
| Written by omer yavuz |
| Saturday, 13 February 2010 20:31 |
|
endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-3 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra
Ketika sang musafir yang mendapatkan sebuah kelezatan hakikat dari kekuatan imanya pulang dari majlis para nabi, para mujtahid yang disebut siddiqun dan ulama yang membuktikan dakwah para nabi secara ilm al yaqin dengan bukti yang pasti dan kuat memanggil dia ke madrasah mereka. Dia masuk dan melihat bahwa: Ribuan orang jenius, ratusan ribu ulama yang teliti dan tinggi membuktikan terutama kemutlakan eksistensi Tuhan, keesaan-Nya dan masalah-masalah keimanan dengan penelitian mendalam yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun. Benar, walaupun kemampuan dan jalan mereka yang berbeda-beda, kesepakatan para ulama pada rukun-rukun dan usul keimanan dan masing-masing penyandaran mereka terhadap bukti mereka yang kuat dan meyakinkan merupakan sebuah bukti bahwa jika ada orang yang memiliki kecerdasan sebanyak para ulama dan mendapatkan bukti sebanyak bukti para ulama, maka bisa mengahadapi para ulama. Jika tidak, orang-orang yang ingkar bisa menghadapi mereka dengan menutup mata dan menjadi keras kepala mengenai kebodohan, pengingkaran, dan masalah-masalah negatif yang tidak bisa dibuktikan. Secara metaforis, orang yang menutup matanya membuat siang hari menjadi malam baginya. Sang musafir telah mengetahui di madrasah yang cemerlang dan luas ini bahwa cahaya yang disebarkan oleh para ustad yang terhormat dan luas ilmunya menerangi separuh muka bumi sejak lebih dari seribu tahun. Dia telah mendapatkan kekuatan maknawi, sehingga jika semua orang-orang yang ingkar berkumpul, hal ini tidak mengherankan dan menggoyangkan sedikit pun keyakinannya. Demikianlah, telah disebutkan pada tingkat kesembilan dari maqam pertama ketika musafir tersebut mengambil pelajaran di madrasah tersebut isyarat berikut ini: لا إله إلاّ الله الذي دلّ علـى وجوب وجوده في وحدته: اتفاقُ جميع الأصفياء، بقوة براهينهم الزاهرة المحققة المتفقة “Tidak ada Tuhan selain Allah, yang telah menunjukkan kewajiban eksistensi-Nya dalam keesaan-Nya adalah bersatunya seluruh ulama dengan kekuatan petunjuk mereka yang beragam.” * * * Kemudian ketika sang musafir yang ingin melihat nur dan kelezatan pada peningkatan dari derajat ilmul yaqin ke ainul yaqin, penguatan iman dan perkembangannya datang dari madrasah, ribuan, dan jutaan mursyid yang mencapai hakikat derajat ainul yaqin dan bekerja untuk hakikat di bawah naungan Mi’raj Muhammad SAW dan manhaj besar di sebuah tempat dzikir yang sangat terang, bercahaya, dan sebesar gurun yang luas. Karena penggabungan tempat-tempat dzikir kecil yang memanggil dia ke tempat dzikir mereka. Dia masuk dan melihat bahwa: Para mursyid yang memiliki kasyaf (penyingkapan) dan karomah mengucapkan secara bersama لا إلهَ إلاّ هو berdasarkan pada kasyaf, musyahadah dan karomah. Mereka pun mengumumkan kemutlakan eksistensi Tuhan dan keesaan rabbani kepada alam semesta. Dia telah menyaksikan dengan ainul yaqin bahwa seperti halnya mengenal matahari dengan tujuh warna yang ada di sinarnya, mengenal dengan tujuh puluh warna, bahkan sebanyak asmaul husna tentang sebuah hakikat yang ditandatangani secara bersama oleh orang-orang jenius dan para arif yang bercahaya dengan beragam warna, tariqat hak yang bermacam-macam, jalan-jalan benar yang beragam, manhaj hak yang bermacam-macam yang terjelma dari sinar Matahari Azali. Dia melihat ijma’ para nabi, kesepakatan para ulama, kesesuaian para wali, dan persatuan ketiga pandangan lebih terang daripada siang hari yang menunjukkan matahari. Demikianlah, berikut ini kalimat yang disebutkan pada tingkat kesepuluh dari maqam pertama berupa isyarat yang telah disimpulkan oleh musafir tersebut yang dipetik olehnya dari tempat-tempat dzikir: لاإله إلاّ الله الذي دلّ على وجوب وجوده في وحدته: إجماع الاوليـاء بكشفياتهم، وكراماتهم الظـاهرة المحـققة المصدّقة “Tidak ada Tuhan selain Allah, yang kemutlakan eksistensi-Nya dan keesaan-Nya ditunjukkan dengan ijma para wali melalui kasyaf dan karomah mereka yang jelas dan benar”. * * * Kemudian, sang musafir dunia yang memahami mahabbatullah (cinta terhadap Allah SWT) yang bersumber dari iman kepada Allah SWT dan makrifatullah merupakan yang paling penting dan besar bagi kesempurnaan manusia, bahkan merupakan dasar dan sumber kesempurnaan manusia secara umum, mengangkat kepalanya dan melihat di langit dengan segala kekuatan dan perasaannya untuk meningkatkan makrifat dan menguatkan iman. Dia berkata kepada akalnya bahwa: Selama sesuatu yang paling berharga di alam semesta adalah kehidupan, makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ditundukkan kepada kehidupan. Yang paling berharga dari makhluk-makhluk hidup adalah makhluk yang memiliki ruh dan yang paling berharga dari makhluk yang memiliki ruh adalah makhluk yang berkesadaran, serta untuk penghargaan ini muka bumi diisi dan dikosongkan setiap tahun dan abad demi memperbanyak makhluk hidup. Tentu saja langit yang cemerlang dan terhias juga memiliki penghuni sesuai dengan kondisinya dari makhluk hidup, yang memiliki ruh dan makhluk yang berkesadaran bahwa berbicara dengan malaikat dan melihat mereka seperti penampakan Jibril as yang terlihat kepada para sahabat di depan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dengan mutawatir sejak dahulu. Jika demikian, sang musafir berkata “Andai saja saya bertemu dengan penghuni langit dan mengetahui apa pendapat mereka tentang hal ini”. Ketika dia berfikir bahwa mereka yang memiliki ucapan yang paling penting tentang Sang Pencipta alam semesta, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara dari langit: “Jika ingin bertemu dengan kami dan mendapatkan pelajaran dari kami, kamilah yang pertama kali mengimani masalah-masalah keimanan yang datang kepada para nabi terutama melalui Nabi Muhammad SAW dan al-Qur’an al Mukjizul Bayan. Dan seluruh arwah tayyibah (ruh-ruh bersih) yang terlihat kepada manusia dari kelompok kami tanpa terkecuali dan secara bersama bersaksi atas kemutlakan wujud (wajibul wujud), keesaan dan sifat-sifat suci-Nya Sang Pencipta alam semesta dan menginformasikan dengan sesuai dan sepakat. Kesesuaian dan kesepakatan terhadap berita tak terhingga ini merupakan sebuah pedoman seperti matahari bagimu”. Cahaya iman sang musafir menjadi lebih terang dan dia naik dari muka bumi ke langit. Berikut ini disebutkan ringkasan yang dapat dipetik oleh musafir tersebut dari pelajaran malaikat itu, yang tercantum pada tingkat kesebelas dari maqam pertama, yaitu: لاإله إلاّ الله الواجب الوجود الذي دلّ علـى وجوب وجوده في وحدته: اتـفاق الملائــكة المتمثلين لأنظار الناس، والمتكلمين مع خواص البشر، باخبــارهـــــم المتطابقة المتوافقة “Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya dan keesaan-Nya bersifat wajib. Yang ditunjukkan oleh kesesuaian berita dari malaikat yang dapat dilihat oleh para manusia dan dapat berbicara dengan manusia-manusia pilihan dengan berita-berita manusia (para nabi)”. *** Kemudian, karena sang musafir yang penuh keingintahuan dan semangat mendapatkan pelajaran dari lisan kelompok-kelompok khusus dari aspek alam nyata, jasmani, materi, dan dari keadaan mereka, maka dia ingin sebuah perjalanan dengan menelaah dan mencari hakikat di alam gaib dan barzakh. Ketika itu, terbukalah pintu-pintu seluruh akal yang bercahaya dan lurus, hati yang sehat dan nurani yang mana mereka menjadi luas seluas alam semesta secara maknawi walaupun ukuran mereka kecil. Mereka adalah benih manusia yang merupakan buah dari alam semesta. Dia melihat: ‘’Mereka adalah barzakh insani di antara alam gaib dan alam nyata. Karena persentuhan dan muamalah antara mereka sesama terjadi pada titik-titik itu dibandingkan manusia’’. Ia berkata kepada akal dan hatinya sendiri: ‘’Marilah! Jalan yang menuju hakikat dari kedua perantara (akal dan hati) ini lebih pendek. Tidak seperti kita mendapatkan pelajaran dari lisan di jalan-jalan yang lain, tetapi kita perlu bermanfaat dengan menelaah dari sifat-sifat dan warna-warna mereka dari sisi iman’’. Dia mulai menelaah dan melihat bahwa: ‘’Keyakinan pada iman dan tauhid dengan teguh dan pendapat, keyakinan dengan sesuai, tabah dan puas seluruh akal yang lurus dan bercahaya yang kemampuannya sangat beragam dan mazhab-mazhabnya yang sangat berbeda sepakat. Jadi mereka bersandar pada sebuah hakikat yang tıdak bisa dirubah dan memegangnya. Akar-akar mereka masuk ke dalam sebuah hakikat yang kuat, sehingga tidak terputus. Jika demikian, Ijma’ mereka dalam hal iman, wujud dan tauhid merupakan sebuah rantai nurani yang tidak terputus dan sebuah jendela bersinar yang terbuka untuk hakikat’’. Dia juga melihat dan memahami bahwa: ‘’Secara umum kasyaf (penyingkapan) dan penyaksian semua hati nurani yang sehat yang berbeda dalam hal jalan dan metode sesuai antar sesama tentang rukun-rukun iman dan sepakat tentang tauhid dengan suara bulat, yakin, dan luhur. Jadi hati nurani yang merupakan arasy makrifat rabbani yang kecil dan cermin shamadaniyyah4 yang lengkap yang mencapai hakikat merupakan sebuah jendela yang terbuka terhadap hakikat matahari dan sebuah cermin seperti sebuah laut yang menjadi cermin bagi matahari. Ijma’ dan kesepakatan mereka mengenai kemutlakan eksistensi dan tauhid merupakan sebuah pedoman yang sempurna dan mursyid besar. Karena tidak ada kemungkinan dari aspek apa pun bahwa sebuah anggapan selain hakikat, sebuah pemikiran yang tak benar, dan sebuah sifat yang salah menipu mata yang sangat besar dan tajam secara kontinyu dan meyakinkan. Para Sofis bodoh yang mengingkari alam semesta menolak akal yang rusak yang memberikan kemungkinan terhadap hal ini’’. Dia lalu berkata bersama akal dan hatinya, “Amantu Billah” (Aku beriman kepada Allah). Sebagai isyarat yang menunjukkan kepada adanya ma’rifah imaniyyah yang dapat dipetik oleh musafir tersebut dari akal yang lurus dan hati yang bercahaya ini disebutkan pada tingkat ketiga belas dari maqam pertama, yaitu: لا إله إلاّ الله الواجب الوجود الذي دلّ على وجوب وجوده في وحدته: اجماع العقول المستقيمة المنوّرة، باعتقاداتها المتوافقة وبقناعاتها، ويقيناتها المتطابقة، مع تخالف الاستعدادات والمذاهب، وكذا دلّ على وجوب وجوده في وحدته اتفاق القلوب السـليمة النورانية، بكشفياتها المتطابقة وبمشاهداتها المتوافقة، مع تباين المسالك والمشارب “Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya dan keesaan-Nya bersifat wajib. Yang membuktikan hal itu adalah kesepakatan akal yang lurus dan keyakinannya, meski mazhab yang dianutnya berbeda-beda. Demikian pula dibuktikan oleh hati yang sehat dan bercahaya, yaitu dengan kasyaf dan musyahadahnya, meski cara yang ditempuh berbeda-beda”. *** Kemudian, musafir yang melihat alam gaib dari dekat dan berjalan dengan hati dan akal mengetuk pintu alam gaib dengan pikiran seperti ini “Apa yang dikatakan oleh alam gaib”. Yakni seorang Dzat yang memperkenalkan diri-Nya dengan ciptaan tak terbatas yang terhias dan penuh kreasi membuat diri-Nya dicintai dengan nikmat-nikmat yang manis, terhias, dan tak terhingga, memberitahukan kesempurnaan rahasia-Nya dengan karya tak terhingga yang penuh mukjizat dan kepandaian. Hal ini membuat kita mengetahui secara jelas Dzat yang ingin secara fi’li lebih dari ucapan dan memberitahukan dengan keadaan di balik tabir alam gaib. Sebagaimana dengan fi’li dan keadaan, Dia juga berbicara dengan ucapan, memperkenalkan diri-Nya dan membuat yang lain mencintai-Nya. Sang musafir berkata “Kita harus mengenal Dia dari penjelmaan-Nya’’ dari aspek alam gaib. Hatinya masuk dalam alam gaib dan melihat dengan mata akal. Hakikat wahyu berlaku di alam gaib dengan penjelmaan yang sangat kuat. Kesaksian wujud dan tauhid yang sangat kuat yang lebih dari kesaksian alam semesta dan para makhluknya datang dari Allaamul Guyub (Sang Maha Mengetahui fenomena gaib) dengan hakikat wahyu dan ilham. Allah SWT. tidak hanya menyerahkan kesaksian ciptaan-Nya mengenai diri, wujud, dan keesaan-Nya, melainkan Diri-Nya berbicara dengan Kalam Azali sesuai dengan Dzat-Nya. Dzat yang hadir di setiap tempat dengan ilmu dan kekuasan memiliki Kalam yang tak terhingga, sebagimana makna kalam-Nya memberitahukan diri-Nya, pembicaraan-Nya juga memberitahukan Dia dengan sifat-sifat-Nya. Benar, sang musafir mengetahui kenyataan dan ketetapan hakikat wahyu jelas dengan kesepakatan para nabi, persatuan berita mereka dari aspek bersandar pada wahyu Ilahi, bukti, dan mukjizat kitab-kitab suci dan suhuf samawi yang menjadi pengesahan, pedoman, serta tauladan bagi sebagian besar manusia dan buah wahyu dan wahyu nyata. Dia telah memahami bahwa hakikat wahyu menjelaskan lima hakikat suci: Pertama, berbicara sesuai dengan pemahaman manusia dan tingkat akal mereka yang disebut التنزلات الإلهية الى عقول البشر (menurunkan ajaran Ilahi yang sesuai dengan kapasitas akal manusia) merupakan sebuah penurunan Ilahi. Benar, Dzat yang membuat para makhluk yang memiliki ruh dapat berbicara dan mengetahui apa mereka ucapkan, tentu saja Rububiyah-Nya memerlukan keterlibatan-Nya terhadap pembicaraan mereka dengan pembicaraan-Nya. Kedua, untuk memperkenalkan diri-Nya, Dzat yang menciptakan alam semesta dalam keadaan sangat menakjubkan dengan biaya yang tak terhingga dan membuat makhluk lain mengungkapkan kesempurnaan-Nya dengan ribuan lisan, tentu saja Dia memperkenalkan diri-Nya dengan ucapan-Nya sendiri. Ketiga, sebagaimana Dzat yang menjawab secara fi’li munajat dan syukur manusia hakiki yang paling terpilih, yang paling memerlukan kebutuhan, lembut dan bersemangat, jawaban dengan Kalam-Nya juga merupakan fungsi penciptaan. Keempat, Sifat Kalam yang merupakan sebuah keperluan bagi Sifat Ilmu dan Hidup dan sebuah penjelmaan bersinar bagi kedua sifat tersebut, tentu saja berada pada Dzat yang memiliki ilmu yang luas dan kehidupan yang kekal dalam bentuk luas dan abadi. Kelima, Dzat yang memberikan ketidakberdayaan, semangat, kefakiran, kebutuhan, sifat bimbang terhadap masa depan dan rasa cinta terhadap makhluk-makhluk-Nya yang manis, penuh cinta, bimbang, memerlukan tempat sandaran, bersemangat untuk mengenal pemiliknya, fakir dan tak berdaya, tentu saja mengumumkan diri-Nya melalui pembicaraan-Nya. Hal ini merupakan konsekuensi dari fungsi ketuhanan-Nya. Demikianlah, sang musafir telah memahami pembuktian wahyu samawi yang mengandung penurunan Ilahi, pengenalan rabbani, pembalasan rahmani, pembicaraan subhani, pemberitahuan shamadani terhadap wujud wajibul wujud dan keesaan-Nya secara bulat merupakan sebuah hujjah yang lebih kuat daripada kesaksian sinar matahari kepada matahari pada siang hari. Kemudian, Dia melihat pada sisi ilham. Dia menyaksikan bahwa ilham-ilham yang benar mirip dengan wahyu pada satu sisi dan merupakan sejenis pembicaraan rabbani, namun ada dua perbedaan: Perbedaan pertama, wahyu yang lebih tinggi daripada ilham terjadi sebagian besarnya melalui malaikat, sedangkan ilham kebanyakan terjadi tanpa perantara. Misalnya, seorang raja memiliki pembicaraan dan perintah dalam dua bentuk: 1-Raja mengirimkan seorang ajudannya kepada seorang gubernur dengan sifat keperkasaan kesultanan dan kekuasaan umum. Terkadang untuk menunjukkan pentingnya keperkasaan kekuasaan dan perintah dia membuat pertemuan dengan ajudan dan setelah itu disampaikan perintah sang raja. 2-Percakapan khusus seorang raja yang mengatasnamakan dirinya bukan dengan gelar raja atau sultan dengan pelayan khusus atau rakyat jelata yang ada hubungan khusus dengan sang raja melalui telefon khususnya. Demikian pula, Raja Azali mempunyai percakapan melaui wahyu dan ilham dengan gelar Sang Pencipta alam semesta dan nama Rab seluruh alam. Dia juga memiliki bentuk percakapan sebagai Rab dan Pencipta dengan masing-masing makhluk hidup sesuai dengan kemampuan mereka, tetapi di balik tirai atau tabir. Perbedaan kedua, wahyu bersifat tanpa bayangan, murni, dan khusus pada orang-orang khusus. Sedangkan ilham mempunyai bayangan, campur dengan warna, dan bersifat umum. Dengan bentuk yang beragam dan berbeda seperti ilham malaikat, manusia, dan binatang, ilham menjadi penyebab untuk memperbanyak kalimat rabbani sebanyak tetesan laut. Sang musafir telah memahami bahwa hal ini menafsirkan salah satu aspek dari ayat ini: قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku.” (Al-Kahfi: 109) Kemudian, dia memperhatikan kandungan, hikmah, dan kesaksian ilham dan melihat bahwa: kandungan, hikmah, dan hasil ilham terdiri dari empat cahaya. Pertama, sebagaimana Dzat yang membuat makhluk-Nya cinta terhadap-Nya dengan perbuatan-perbuatan-Nya yang disebut cinta ilahi. Dia juga membuat makhluk-makhluk-Nya cinta dengan ucapan, kehadiran, dan percakapan-Nya. Hal ini merupakan fungsi Sang Maha Cinta lagi Maha Pengasih. Kedua, sebagaimana Dzat yang memberikan jawaban terhadap doa-doa hamba-Nya dengan perbuatan-perbuatan-Nya, jawaban dengan ucapan di balik tirai merupakan fungsi Sang Maha Penyayang. Ketiga, sebagaimana Dzat yang membantu kebutuhan dan permohonan para makhluk yang tertimpa musibah besar dan memiliki keadaan yang sulit dengan tindakan-tindakan-Nya, pertolongan-Nya dengan ucapan-ucapan ilhamiyah yang termasuk sebuah percakapan merupakan keharusan Rububiyah-Nya. Keempat, sebagaimana Dzat yang membuat keberadaan, kehadiran dan perlindungan-Nya dengan tindakan-tindakan-Nya dirasakan oleh makhluk-makhluk-Nya yang sangat tidak berdaya, lemah, fakir, membutuhkan dan bersemangat untuk mencari raja, pelindung, pengatur, dan pemeliharanya, begitu juga pemberitahuan kehadiran dan keberadaan diri-Nya sesuai dengan kemampuan makhluk-Nya dengan ucapan melalui telepon hati mereka pada aspek tertentu yang terkait dengan makhluk-Nya dan di balik tirai ilham-ilham yang benar yang merupakan sejenis percakapan rabbani adalah konsekuensi dari kasih sayang Uluhiyyah dan rahmat Rububiyah. Kemudian dia telah melihat pada kesaksian ilham dan menyaksikan bahwa seandainya matahari memiliki kesadaran, kehidupan dan tujuh warna yang ada pada sinarnya merupakan tujuh sifatnya, matahari memiliki cara berbicara dengan percikan cahaya dan manifestasi yang ada pada sinarnya. Sebagaimana dalam keadaan ini terlihat pantulan matahari ada pada sesuatu yang transparan, matahari dapat berbicara dengan kaca, sesuatu yang terang, tetesan air, bahkan dengan atom-atom transparan sesuai dengan kemampuan mereka dan memberikan jawaban kepada kebutuhan mereka, semuanya bersaksi atas keberadaan matahari, tidak ada tugasnya yang menghalangi tugas lain. Seperti itu juga, dapat dipahami secara jelas bahwa tidak ada halangan dan pencampuradukan dalam percakapan Matahari Abadi yang merupakan Raja Agung keabadiaan dan keazalian, Pencipta Yang Maha Mulia dan Maha Indah bagi segala makhluk seperti ilmu dan kekuasan-Nya menjelma secara luas dan universal sesuai dengan kemampuan sesuatu, tidak ada persoalan, perkara yang mengahalangi sebuah persoalan atau perkara lain. Sang musafir telah mengetahui secara ilmul yaqin yang mendekati ainul yaqin bahwa semua penjelmaan, percakapan, dan ilham-ilham masing-masing dan bersama menjadi bukti dan saksi atas kehadiran, kewajiban eksistensi, dan keesaan-Nya. Berikut ini isyarat singkat yang dapat dipetik oleh musafir tersebut dari pelajaran tentang makrifah alam ghaib pada tingkat keempat belas dan kelima belas dari maqam pertama, yaitu: لا إله إلاّ الله الواجب الوجود الواحد الاحد الذي دلّ على وجوب وجوده فـي وحدته: إجماع جميع الوحيات الحقة المتضمنة للتنزلات الإلهية، وللمكالمات السـبحانية، وللتعرفات الربانية، وللمقابلات الرحمانية، عند مناجاة عباده، وللاشـعارات الصمدانية لـوجوده لمخلوقاته، وكذا دلّ علـى وجوب وجوده في وحدته: إتــفاق الالهامـات الصـادقة المتضمنة للتوددات الالـــهية، وللاجابات الرحمانية لدعوات مخلوقاته، وللامـــدادات الربانية لاسـتغاثات عباده، وللاحسـاسـات الســبحانية لـوجوده لمصنوعاته “Tidak ada Tuhan selain Allah al-wajib al-wujud (yang keberadaan dan keesaan-Nya bersifat wajib), yang kemutlakan eksistensi-Nya ditunjukkan oleh kesamaan seluruh wahyu yang mengandung firman-firman Ilahi, firman Allah, perkenalan dan pertemuan dengan Allah ketika para hamba bermunajat kepada-Nya. Selain itu, yang menunjukkan bahwa keberadaan-Nya itu bersifat wajib adalah: kesamaan ilham-ilham yang mengandung unsur kasih sayang Allah, pengabulan Allah atas doa-doa makhluk-Nya, pertolongan Allah atas permohonan hamba-hamba-Nya, dan kemampuan para makhluk-Nya untuk dapat merasakan keberadaan-Nya”. * * * |
| Last Updated on Saturday, 13 February 2010 20:48 |

Powered by Ultra Cheap Vacation Omer YAVUZ Lider Adana Seyahat A.S.. Designed by: Joomla Theme, .name domains. Valid XHTML and CSS.


