Login with Facebook

logo

Home Indonesia Endonozyaca Endonezya Endonazya artikel-Endonosian Articles endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-2 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra
endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-2 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra PDF Print E-mail
Written by omer yavuz   
Saturday, 13 February 2010 20:08

endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-2 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra

AYAT- AL KUBRA (TANDA-TANDA KEBESARAN)

Penyaksian seorang Musafir yang Bertanya Kepada Alam Tentang Penciptanya

 


    Kemudian, turis pemikir yang terbiasa melakukan wisata pemikiran dibisiki oleh bola bumi, “Mengapa engkau mengelilingi udara dan berputar diseluruh sudut langit dan ruang angkasa? Mari turun ke tempatku agar aku dapat memperkenalkan apa  yang engkau cari. Perhatikanlah tugas-tugasku dan bacalah apa yang tertulis di dalam lembaran-lembaranku.” Orang itu pun lalu memperhatikan dan dia melihat:
    Bumi seperti seorang maulawi (pengikut tarekat maulawiyyah) melingkari sebuah lingkaran yang menyebabkan terjadinya hari, tahun, dan musim dengan dua gerakannya di sekeliling medan kebangkitan agung. Ia seperti sebuah kapal rabbani yang cemerlang dan tunduk yang berkeliling di rotasi matahari dan laut angkasa secara teratur dan terukur sambil membawa seratus ribu macam makhluk hidup dengan seluruh rezeki dan kebutuhan mereka.
    Kemudian dia memperhatikan lembaran-lembaran bumi. Dia melihat bahwa masing-masing lembaran tersebut memperkenalkan Tuhannya dengan ribuan ayat-ayatnya. Karena ketika dia tidak mendapatkan keluasan waktu untuk dapat menelaah seluruh lembaran tersebut, dia hanya memperhatikan satu lembaran, yaitu lembaran berupa penciptaan dan pengaturan makhluk hidup pada musim semi.
    Dia melihat bahwa bentuk anggota yang tak terhingga dari seratus ribu jenis makhluk hidup diciptakan dari materi yang sederhana dengan sangat teratur; dididik dengan penuh kasih sayang; disebarkan melalui diterbangkannya benih sebagian makhluk hidup secara menakjubkan; diatur secara teratur; diberi makanan dan diasuh dengan kasih sayang; dikembangkan makanan-makanan yang bermacam-macam, lezat, dan manis dari tanah kering, tetesan air, benih-benih, serta akar-akar sekeras tulang yang perbedaanya sangat sedikit dengan kasih sayang.
    Seratus ribu jenis makanan dan keperluan dikirim kepada makhluk hidup dari perbendaharaan gaib secara teratur melalui musim semi yang bagaikan gerbong. Khususnya pengiriman pompa susu manis yang tergantung di dada ibu yang penuh kasih sayang dan susu kaleng yang terdapat dalam bingkisan rezeki yang dikirim untuk bayi dengan penuh kasih sayang, kemurahan hati dan hikmah bahwa hal itu membuktikan secara jelas manifestasi rahmat dan kemurahan hati Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan penuh kasih sayang dan secara mendidik.
    Kesimpulan: Lembaran kehidupan musim semi ini mempertunjukkan seratus ribu contoh dari kebangkitan besar (Al-Hasyrul A’zam) dan menafsirkan ayat berikut dengan jelas secara materi:
بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى  فَانظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ
                                                                      وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Ruum: 50)
Ayat ini juga mengungkapkan makna-makna yang menakjubkan dibalik lembaran ini. Sang musafir telah memahami bahwa bumi mengucapkan  لا إلهَ إلاّ هو (Lailaha illahu) dengan kebesaran dan kekuatannya.
    Demikianlah, disebutkan pada tingkat ketiga dari maqam pertama untuk mengungkapkan penyaksian-penyaksian yang dilakukan oleh musafir tersebut dari lembaran-lembaran lain dengan intisari penyaksian terhadap salah satu aspek dari lembaran besar yang terdapat pada bola bumi:

لا إله إلاّ الله الواجب الوجود الذي دلّ على وجوب وجوده في وحدته:الارض بجميع ما فيها، وما عليها، بشهادة عظمة إحاطة حقيقة: التسخير، والتدبير، والتربية، والفتاحية وتوزيع البذور والمحافظة والادارة، والاعاشة، لجميع ذوي الحياة، والرحمانية والرحيمية العامة الشاملة المكملة بالمشاهدة
“Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensinya merupakan kewajiban yang telah menunjukkan kewajiban keberadaannya dalam keesan-Nya bahwa bumi dengan seluruh yang ada di dalamnya dan di atasnya memberikan kesaksian yang agung dan hakiki mengenai penciptaan, pengaturan, pendidikan, permulaan, pembagian benih, pemeliharaan, pengurusan, dan penghidupan terhadap seluruh makhluk hidup. Dan, kasih sayang dan rahmat-Nya yang umum, mencakup, dan sempurna dengan cara musyahadah (menyaksikan)”.
***
   

Kemudian sesungguhnya musafir yang berpikir tersebut setiap kali menelaah lembaran maka setiap itu pula bertambah keimanannya yang merupakan kunci kebahagiaannya. Bertambah pula makrifahnya kepada Allah yang merupakan kunci menuju tangga kebahagiaan maknawi. Terungkap dengan mata batinnya hakikat keimanan kepada Allah yang merupakan pondasi kokoh bagi segala kesempurnaan. Di samping dia juga telah memetik pelajaran hikmah yang sangat berharga dari langit, cuaca, dan bumi. Setiap kali lembaran itu memberikan rasa nyaman dan kesejukan rohani bagi dirinya, maka dia akan berkata, “Apakah ada yang lebih?” Kemudian dia mendengar dzikir-dzikir khusus yang menambah kekhusyuan dan kerinduan dari laut dan sungai-sungai besar, sehingga dia dapat mendengar bisikan suara yang membawa kesedihan yang membawa rasa nikmat dalam dirinya. Mereka berkata baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan nyata (lisanul hal), “Perhatikanlah kepada kami dan telaahlah!” Maka dia pun memperhatikan dan melihat bahwa:
Meskipun laut yang selalu bergejolak secara vital dan memiliki fitrah seperti tertumpah dan menaklukkan diperjalankan pada sebuah lingkaran yang jaraknya dua puluh lima ribu tahun dengan sangat cepat bersama bumi, namun mereka tidak bubar, tertumpah, dan melampaui darat. Jadi mereka bergerak dan dijaga dengan perintah dan kekuatan Dzat yang berkuasa dan perkasa.
Lalu dia melihat dalamnya laut dan menyaksikan bahwa ia memiliki permata-permata yang sangat indah, terhias, dan teratur. Pemberian rezeki, pengaturan, kelahiran, dan kematian ribuan jenis binatang sangat teratur. Selain itu rezeki dan makanan mereka yang diberikan dari pasir sederhana dan air pahit dengan sempurna membuktikan secara jelas bahwa semua terjadi dengan pemeliharaan dan pengaturan Dzat yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Pengasih lagi Maha Indah.
    Kemudian sang musafir tersebut memandang ke arah sungai. Di sana dia melihat manfaat-manfaat, tugas-tugas, pemasukan, dan pengeluaran sungai betapa bijaksana dan penuh kasih sayang bahwa hal ini membuktikan semua sungai, mata air, kali, dan sungai-sungai besar bersumber dan mengalir dari perbendaharaan rahmat Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa lagi Maha Pemurah. Bahkan mereka disimpan dan digunakan dengan luar biasa, sehingga diriwayatkan bahwa ‘ada empat sungai yang berasal dari syurga’.3 Yakni, sungai-sungai tersebut di luar sebab-akibat pada umumnya. Mereka mengalir dari khazanah syurga maknawi dan sumber yang tidak akan pernah habis.
    Misalnya Sungai Nil—penuh berkah—yang merubah daerah gurun Mesir menjadi sebuah ‘syurga’ mengalir seperti sebuah laut kecil secara kontinyu dari sebuah gunung bernama Gunung Qomar yang terletak di daerah selatan. Jika pengeluarannya dikumpulkan dalam bentuk gunung selama enam bulan dan dibekukan, maka pengeluarannya lebih besar daripada gunung itu. Padahal tempat yang disediakan untuk mata air tidak sampai besarnya 1/6 dari gunung. Karena hujan yang turun sedikit dan mengalir sedikit ke sumber air dikarenakan tanah yang haus meminumnya, maka hujan tidak bisa menjaga keseimbangan sungai yang luas. Hal ini mengungkapkan sebuah hakikat indah yang sangat bermakna dari sebuah riwayat yang mengatakan sungai Nil yang diberkahi itu bersumber dari sebuah syurga gaib di luar hukum alam yang berlaku di bola bumi.
    Demikianlah, sang musafir telah melihat salah satu dari ribuan penyaksian dan hakikat seluas laut dari sungai dan laut. Dia pun telah memahami bahwa semuanya (sungai dan laut) secara bulat mengucapkan لا إلهَ إلاّ هو (La ilaha illahu) dengan sebuah kekuatan sebesar laut dan penyaksian ini disaksikan oleh saksi sebanyak makhluk-makhluk yang ada di laut. Untuk mengungkapkan kesaksian umum laut dan sungai disebutkan pada tingkat keempat dari maqam pertama sebagai berikut:

لا إله إلا الله الواجب الوجود الذي دلّ على وجوبِ وجوده في وحدته: جميع البحار، والانهار، بجميع ما فيها، بشــهادة عظمةِ إحاطةِ حقيقة: التســــخير، والمحافظة والادارة الواســــعة المنتظمة بالمشـــاهدة
“Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensi-Nya merupakan keharusan; yang keharusan eksistensi tersebut mengindikasikan keesaan-Nya: seluruh lautan dan sungai-sungai beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Itu semua tergambar melalui kesaksian agung dan hakiki, yaitu dalam proses penciptaan, pemeliharaan, dan pengaturuan yang teratur, yang dapat diketahui dengan cara musyahadah”.
***

    Kemudian, gunung dan daerah gurun memanggil musafir yang tengah tenggelam dalam perjalanan intelektualnya. Gunung-gunung dan daerah gurun tersebut berseru, “Bacalah (menelaah) lembaran kami pula!” Musafir tersebut pun menelaah dan dia melihat bahwa tugas-tugas gunung yang sangat menyeluruh dan pelayanan gunung yang bersifat umum itu merupakan bagian dari keagungan dan hikmah yang menakjubkan akal siapapun yang melihatnya.
    Misalnya munculnya gunung dari dasar bumi dengan perintah rabbani menenangkan kemarahan, kemurkaan, dan kekacauan yang muncul dari goncangan yang terjadi pada perut bumi dengan meletus. Muka bumi bernafas dengan meletusnya gunung seraya bumi terselamat dari goncangan dan gempa bumi yang berbahaya, sehingga bumi tidak mengganggu kenyamanan penghuninya selama perputarannya. Jadi sebagaimana tiang di atas kapal untuk menjaga keseimbangan dan menghindari dari goncangan, begitu juga gunung-gunung merupakan tiang-tiang yang penuh khazanah bagi kapal bumi. Hal ini diungkapkan dalam banyak ayat al-Qur’an seperti
    وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا  وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ                 وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا     
    “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (An-Naba`: 7)
    “Dan menjadikan padanya gunung-gunung.” (Al-Hijr: 19)
    “Dan gunung-gunung yang dipancangkan dengan teguh.” (An-Nazi’at: 32)
Contoh lainnya, segala sesuatu yang berada dalam gunung berupa air, tambang, materi, dan obat-obatan yang dibutuhkan oleh makhluk hidup disediakan dan disusun dengan betapa bijaksana, teratur, murah hati, dan berhati-hati bahwa secara jelas dibuktikan mereka merupakan khazanah, gudang, dan pelayan Dzat yang memiliki khazanah yang tak terbatas, dan kekuasaan yang tak terhingga. Musafir memahami hal ini. Dia membandingkan tugas dan hikmah dataran dan gunung yang lainnya sebesar gunung dengan kedua mutiara ini dan melihat dengan kekuatan gunung dan keluasan dataran hikmah-hikmah umum gunung dan dataran, khususnya kesaksian mereka dari segi penyimpanan cadangan dan ucapan tauhid لا إلهَ إلاّ هو (Lailaha illa hu). Sang musafir mengucapkan ‘amantu billah’.
    Berikut ini tulisan yang disebutkan pada tingkat kelima dari maqam pertama untuk menjelaskan makna di atas:

لا إله إلاّ الله الواجـب الوجـود الذي دلّ على وجـوب وجوده: جميع الجبال والصحارى، بجميع ما فيها، وما عليها، بشهادة عظمة احاطة حقيقة: الاِدخار، والادارة، ونشـــر البذور، والمحــافظة، والتدبير الاحتيـاطية الربانية الواســعة العــامــــة المنتظمة المكملة بالمشـــاهدة
    “Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensinya merupakan keharusan mutlak; yang kemutlakan eksistensi-Nya ditunjukkan oleh seluruh pegunungan, gurun, dan apa-apa yang ada di dalam dan di atasnya; dengan kesaksian agung cadangan hakiki, yaitu: adanya penyimpanan, keteraturan, penyebaran benih, pemeliharaan, pengurusan, pemeliharaan dari Allah yang bersifat luas, umum, teratur, dan sempurna dengan proses musyahadah”.
***
    Ketika pikiran musafir tersebut tengah mengembara mencermati gunung dan gurun, tiba-tiba dalam pikirannya terbuka pintu alam pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Alam tersebut berseru, “Kemarilah menemui kami, berjalan-jalanlah di taman kami, kemudian cermatilah tulisan-tulisan yang ada pada kami.”
    Musafir tersebut pun lalu masuk ke dalam taman dan melihat bahwa pepohonan dan tumbuh-tumbuhan telah membentuk sebuah majlis tahlil dan tauhid serta lingkaran dzikir dan syukur yang besar dan terhias. Sang musafir telah memahami dari keadaan mereka bahwa seolah-olah semua jenis pepohonan dan tumbuh-tumbuhan bersama secara bulat mengucapkan لا إلهَ إلاّ هو (Lailaha illa hu). Karena dia melihat ada tiga hakikat unıversal yang bersaksi dan menjadi bukti terhadap ucapan لا إلهَ إلاّ هو (Lailaha illa hu) dari pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang berbuah secara bersama dengan lisan-lisan dedaunan yang terukur dan fasih, ucapan-ucapan bunga yang terhias dan elok, serta kalimat buah-buahan yang teratur.
    Pertama, secara jelas dirasakan sebuah makna dan hakikat pemberian nikmat, kemurahan hati dan ihsan secara sengaja pada masing-masing pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, begitu juga terlihat pada semuanya secara jelas sejelas sinar matahari.
    Kedua, terlihat sejelas siang hari sebuah makna dan hakikat perbedaan sengaja dan bijaksana yang tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan, melainkan perhiasan dan pemberian rupa dengan sengaja dan kasih sayang pada jenis-jenis dan masing-masing pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini menunjukkan semua itu merupakan karya dan pahatan sang Pencipta Yang Maha Bijaksana.
    Ketiga, terbukannya bentuk dua ratus ribu jenis makhluk dalam keadaan berbeda, teratur, seimbang, vital, bijaksana, tanpa ada kesalahan dan kekurangan dari biji dan benih yang terbatas, mirip, sederhana, berbeda sedikit dan tercampur dengan sangat teratur, terukur, dan indah. Hal ini merupakan sebuah hakikat yang lebih terang daripada matahari. Musafir telah mengetahui adanya saksi-saksi yang membuktikan hakikat itu sebanyak bunga-bunga, buah-buah, daun-daun, dan makhluk-makhluk pada musim semi dan mengucapkan الحمد لله على نعمة الايمان       Demikianlah, untuk menjelaskan hakikat dan kesaksian ini, disebutkan pada tingkat keenam dari maqam pertama hal berikut ini:

لا إاله إلاّ الله الواجـب الوجــــود الــــذي دلّ علــى وجـــوب وجـوده في وحـدته: اجمــاع جميع أنــواع الاشــجار والنباتات، المســبحات الناطقات: بكلمـات أوراقها المــوزونات الفصيحـات، وأزهـارهـا المزينـات الجـزيلات، واثمـــارهـــا المنتظمــات البــليغات، بشهادة عظمة إحــاطة حقيقة: الانعـــام، والاكــــرام، والاحســــان، بقصــدٍ ورحـــمةٍ. وحــقيقة: التمييـــــز، والتـــزييـــن، والتصــــويـــر، بارادةٍ وحكمةٍ، مع قطعية دلالة حقيقة فتح جميع صورها الموزونـات المزيّنات المتباينة المتنوعة غير المحدودة، من نَويات وحبّات متماثلة متشابهة محصورة معدودة
    “Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensi-Nya merupakan keharusan mutlak; yang kemutlakan eksistensi-Nya ditunjukkan oleh keseragaman seluruh jenis pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Mereka bertasbih dengan mengungkapkan kalimat-kalimat yang fasih. Demikian pula dengan bunga-bunga yang indah dan buah-buahan yang teratur, berupa kesaksian yang agung mengenai hakikat kenikmatan, kemuliaan, dan keihsanan yang bertujuan sebagai bentuk kasih sayang. Demikian pula dengan hakikat keistimewaan, perhiasan, dan gambaran dengan kehendak dan hikmah-Nya. Demikian pula halnya dengan dalil yang bersifat pasti dan hakiki yang menjadi pembuka terciptanya bentuk-bentuk yang berimbang dan indah, yang jumlahnya beragam hingga tidak terbatas. Yaitu berupa benih yang hampir sama yang jumlahnya terbatas dan terhingga.
***
    
    Kemudian, musafir yang dalam perjalanan, pemikirannya bertambah semangat dan kesenangan dengan peningkatan. Ketika dia datang sambil mengambil setangkai makrifat dan iman sebesar musim semi dari taman musim semi, terbuka alam binatang, dan burung-burung pada akalnya yang mencari hakikat dan pemikirannya yang terbiasa dengan makrifat. Mereka memanggil sang musafir ke dalam alam mereka dengan seratus ribu suara yang berbeda dan lisan-lisan yang bermacam-macam. Mereka mengucapkan ‘silahkan’. Musafir pun telah masuk dan melihat bahwa:
    Semua jenis binatang dan burung secara bersama mengucapkan لا إلهَ إلاّ هو (Lailaha illa hu) dengan lisan ucapan dan perbuatan. Mereka merubah muka bumi ini menjadi dalam bentuk sebuah tempat dzikir dan majlis tahlil yang besar. Dia melihat mereka mensifati-Nya dan memuji-Nya seolah-olah masing-masing mereka merupakan kasidah rabbani, kalimat subhani, dan huruf rahmani yang bermakna. Seolah-olah perasaan, indera, organ-organ, dan alat binatang dan burung-burung merupakan kalimat yang teratur dan seimbang, serta ucapan yang teratur dan sempurna.
    Sang musafir telah menyaksikan tiga hakikat besar dan menyeluruh yang membuktikan bahwa mereka bersyukur  kepada Sang Pemberi Rezeki dan Sang  Pencipta melalui peralatan mereka dan bersaksi atas keesaan Allah SWT.
    Pertama, hakikat penciptaan dengan bijaksana dan penuh kreasi, penciptaan dengan kehendak dan ilmu, pemberian ruh dari ketiadaan menunjukkan manifestasi ilmu, hikmah, dan kehendak dengan dua puluh aspek bahwa hakikat ini bersaksi atas kemutlakan eksistensi (wajibul wujud), tujuh sifat dan keesaan Dzat Yang Maha Hidup dan Yang Berdiri sendiri sebagai bukti luas yang memiliki saksi sebanyak makhluk hidup.
    Kedua, terlihat sebuah hakikat agung dan kuat yang muncul dari perbedaan, perhiasan, dan gambaran yang berbeda dari segi wajah, terhias dari segi bentuk, seimbang dalam hal jumlahnya dan teratur dalam bentuk pada makhluk-makhluk yang tidak terhingga bahwa selain Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu tidak memiliki perbuatan menyeluruh yang menunjukkan ribuan keluarbiasaan dan hikmah pada setiap sisinya. Tidak mungkin!
    Ketiga, penciptaan ratusan ribu jenis binatang dengan bermacam-macam gaya dan bentuk-bentuknya yang mengandung mukjizat hikmah dari tetesan air yang disebut nutfah dan telur-telur yang sama, mirip, berbeda sedikit dan terbatas dengan sangat teratur, terukur dan tanpa kesalahan merupakan sebuah hakikat yang terang bahwa bukti-bukti sebanyak jumlah binatang menerangkan hakikat ini.
    Demikianlah, musafir telah melihat dan mengambil pelajaran bahwa dengan kesepakatan tiga hakikat di atas semua jenis alam binatang secara bersama bersyahadat dengan لا إلهَ إلاّ هو, seolah-olah muka bumi seperti seorang manusia yang mengucapkan لا إلهَ إلاّ هو sesuai dengan kebesaranya dan mendengarkan kepada penghuni langit. Disebutkan pada tingkat ketujuh dari maqam pertama mengenai penjelasan hakikat-hakikat tersebut seperti berikut ini:

لا إله إلاّ الله الواجبُ الوجــــــــود الذي دلّ علــى وجــــوب وجوده في وحــدته: إتفاقُ جميع أنــواع الحيوانات، والطيور، الحامدات الشاهدات بكلمات حَواسِّها، وقواهــا، وحســياتها، ولطائفها، الموزونات المنتظمات الفصيحات، وبكلمات اجهزتها وجوارحها، واعضائها، والاتها المكملة البليغات، بشهادة عظمة إحاطة حقيقة الايــــجاد والصنع، والابــــداع، بالارادة، وحــقيقة: التمييز والتزيين، بالقصد. وحقيقة: التقدير والتصوير، بالحكمة مع قطعية دلالة حقيقة: فتح جميع صورها المنتظمة المتخالفة المتنوعة غير المحصورة من بيضاتٍ وقطراتٍ متماثلة متشابهة محصورة محدودة
    “Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya bersifat wajib. Yang menunjukkan kewajiban keberadaan-Nya itu: seluruh jenis hewan dan burung-burung bersaksi dengan ucapan inderanya, kekuatannya, kelembutannya, anggota tubuhnya berupa kesaksian hakikat penciptaan dan hakikat keistimewaan dan keindahan, serta hakikat kekuasaan Allah. Di mana di dalamnya terdapat petunjuk yang bersifat pasti bahwa seluruh bentuk hewan-hewan tersebut bersifat teratur dan beragam tanpa batas. Padahal mereka berasal dari telur dan benih yang sejenis dan hampir sama bentuknya dalam jumlah yang terbatas’’.
***

    Kemudian ketika sang musafir yang berfikir ingin masuk ke alam manusia untuk meningkatkan makrifah ilahiyah di jenjang yang tak terhingga, dzauk, dan cahayanya yang tak terujung. Terutama para nabi mengundang dia ke alam mereka. Sang musafir masuk, pertama-tama dia memandang masa lampau dan melihat:
    Para nabi yang merupakan yang paling bercahaya dan yang paling sempurna di alam manusia secara bersama mengucapkan لا إلهَ إلاّ هو . Mereka mengklaim tauhid dengan kekuatan mukjizat-mukjizat mereka tak terbatas yang terang dan terpercaya. Mereka memberikan pelajaran kepada manusia dengan mengajak mereka agar beriman kepada Allah SWT untuk meningkatkan derajat manusia dari derajat hewani ke derajat malaikat. Sang musafir duduk dan mendengar pelajaran di madrasah yang nurani itu.
    Karena para pelopor (para nabi) yang paling tinggi dan terkenal di antara manusia-manusia yang terkenal masing-masing mereka memegang mukjizat-mukjizat sebagai tanda persetujuan yang diberikan oleh Sang Pencipta alam semesta, dengan pemberitahuan mereka sebuah kaum besar dan sebuah ummah menyetujuinya dan beriman, maka  sebuah hakikat yang disetujui oleh para nabi yang tegas dan jujur secara bersama betapa kuat dan pasti. Sang musafir telah memahami bahwa orang-orang sesat yang mengingkari hakikat ini yang dibuktikan oleh betapa banyak pelopor terpercaya dengan mukjizat yang tak terhingga melakukan kesalahan besar, kriminal, dan melayakkan mereka untuk mendapatkan azab yang tak terbatas. Dia mengetahui orang-orang yang membenarkan para nabi dan beriman kepada mereka adalah benar dan terlihat kepadanya derajat besar dari kesucian iman.
    Benar, selain mukjizat tak terbatas para nabi yang merupakan persetujuan fi’li oleh Tuhan yang Maha Kuasa, banyak tamparan samawi yang datang untuk musuh-musuh mereka sebagai kebenaran terhadap para nabi. Kesempurnaan kepribadian mereka yang menjadi bukti untuk mereka, seruan mereka yang bersifat hakikat, kekuatan iman mereka yang bersaksi terhadap kejujuran mereka, ketegasan dan pengorbanan mereka, kitab dan suhuf suci yang mereka pegang, murid tak terhingga yang mencapai hakikat, kesempurnaan dan nur dengan mengikuti para nabi yang bersaksi atas jalan dan manhaj para nabi yang hak dan benar, ijma’ dan kesepakatan para nabi dalam masalah-masalah positif dan kesesuaian, solidaritas, sehingga kesepakatan para nabi dalam hal pembuktian merupakan sebuah hujjah dan kekuatan bahwa tidak ada kekuatan yang ada di dalam dunia ini menghadapi hakikat ini dan membuat keraguan terhadapnya.
    Persetujuan terhadap para nabi yang ada di rukun iman merupakan sebuah sumber kekuatan. Dia mendapatkan kelezatan iman dari pelajaran mereka. Telah disebutkan pada tingkat kedelapan dari maqam pertama pelajaran yang dapat diambil yang disebutkan untuk musafir tersebut, sebagai berikut:

لا إله إلاّ الله الذي دلّ على وجوب وجوده في وحدته: إجماع جميع الانبياء، بـقوة معجزاتهم الباهرة، المُصّدقّةِ المُصَدّقَة
    “Tidak ada Tuhan selain Allah yang telah menunjukkan kemutlakan eksistensi-Nya dalam ketauhidan-Nya, yaitu bahwa seluruh nabi memiliki mukjizat yang dahsyat, yang bersifat benar, dan dapat dipercaya.”
* * *
Last Updated on Saturday, 13 February 2010 20:47
 

Powered by Ultra Cheap Vacation Omer YAVUZ Lider Adana Seyahat A.S.. Designed by: Joomla Theme, .name domains. Valid XHTML and CSS.

Bookmark and Share