|
endonozyaca Risale i Nur DUNIA MEMBACA RISALAH NUR -2 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra |
|
|
|
|
Written by omer yavuz
|
|
Saturday, 13 February 2010 20:59 |
|
endonozyaca Risale i Nur DUNIA MEMBACA RISALAH NUR -1 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra Apa Itu Risalah Nur? Ustadz Nursi memperkenalkan Risalah Nur sebagai berikut: "Risalah Nur adalah argumen yang luar biasa dan tafsir yang sangat berharga terhadap Al-Qur’an al-Karim. Ia juga merupakan sebuah kilatan yang memukau dari kemukjizatan maknawi Al-Qur’an, setetes dari samudera Al-Qur’an, secercah cahaya dari surya Al-Qur’an, sebuah hakikat yang terilhami dari khazanah ilmu hakikat. Risalah Nur juga merupakan terjemahan maknawi yang bersumber dari limpahan makna Al-Qur'an. " "Risalah Nur bukanlah tariqat kesufian, melainkan sebuah hakikat. Dia adalah cahaya Al-Qur’an al-Karim. Ia tidak bersumber dari ilmu-ilmu dari Timur dan pengetahuan dari Barat. Tapi sesungguhnya ia adalah mukjizat maknawi dari Al-Qur’an al-Karim yang dikhususkan untuk zaman ini." Dapat disimpulkan dari paparan tadi bahwa Risalah Nur adalah penafsiran terhadap makna-makna Al-Qur’an yang membahas masalah-masalah mendasar dalam kehidupan individual. Risalah Nur dapat membangun keyakinan-keyakinan keimanan dengan menepis pemahaman-pemahaman keliru dan sikap-sikap yang lemah. Risalah membahas seputar makna-makna "tauhid" dengan berbagai argumen, "hakikat akhirat", "kebenaran kenabian" dan "keadilan syariah" dan makna-makna lain yang menjadi tema utama Al-Qur’an, disamping membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan dakwah, kecintaan kepada Rasul, kerinduan pada akhirat dan berbagai problem sosial dan politik. Oleh karena itu, Nursi berkata berkenaan dengan Risalah Nur, "Risalah Nur telah memecahkan dan menjelaskan serta menyingkap lebih dari seratus rahasia keagamaan, syariah dan Al-Qur’an, dan telah membungkam orang-orang ateis serta membuktikan dengan terang seterang matahari hakikat-hakikat Al-Qur’an yang dianggap jauh dari sentuhan akal seperti peristiwa Isra' dan Mi'raj dan kebangkitan jasmani. Ia telah membuktikan kepada para filosof dan ateis paling pembangkang sekalipun hingga sebagian diantara mereka meyakini Islam. Oleh karenanya, risalah seperti ini mestilah memiliki hubungan dengan dunia dan sekitarnya. Sudah tentu ia adalah hakikat Al-Qur’an yang akan menyibukkan masa sekarang dan akan datang serta mengambil sebagian besar perhatiannya. Ia adalah pedang berlian yang sangat tajam dalam genggaman orang-orang beriman." Terilhami Metode Al-Qur’an Untuk menjelaskan perbedaan antara gaya Rasail dengan karya-karya lain dalam menjelaskan hal makrifatullah dan iman tahqiqi (teruji), kami kutip pernyataan Nursi sebagai berikut, "Makrifatullah yang digali dari argumen-argumen ilmu kalam sejatinya bukanlah makrifat yang sempurna. Ia tidak memberikan ketentraman hati. Sementara makrifat jika digali dari metode Al-Qur’an yang penuh keajaiban, maka ia akan menjadi makrifat yang sempurna, ia akan mencurahkan ketentraman utuh dalam jiwa. Semoga Allah SWT menjadikan setiap dari Risalah Nur seperti lentera yang menerangi jalan lurus Al-Qur’an yang sarat dengan cahaya. Sebagaimana halnya, makrifat yang lahir dari ilmu kalam nampak kurang dan terbatas, maka makrifat yang lahir lewat jalan tasawwuf juga kurang dan terbatas jika dibandingkan dengan makrifat yang bersumber langsung dari Al-Qur’an melalui para pewaris Nabi. Adapun metode Al-Qur’an al-Hakim adalah ia akan mendapatkan air dan memancarkannya dimana saja dengan sangat mudah, sebab setiap ayat dari Al-Qur’an dapat memancarkan air dimanapun ia dipukulkan -laksana tongkat Nabi Musa a.s- dan mengajak kita membaca: و في كل شيء له أية تدل علي أنه واحد 'Dalam setiap sesuatu terdapat tanda yang membuktikan bahwa dia adalah Esa.' Kemudian, keimanan itu tidak didapatkan lewat ilmu saja, sebab manusia memiliki lathaif (indra lahir maupun batin) yang semuanya memiliki bagian dalam keimanan. Sebagaimana halnya makanan ketika memasuki lambung akan segera terbagi dan tersalur ke berbagai urat sesuai kebutuhan setiap anggota badan. Demikian pula halnya dengan masalah-masalah keimanan yan diperoleh lewat ilmu, ketika memasuki lambung 'akal dan pemahaman', maka setiap lathifah seperti: ruh, hati, sirr, jiwa dan semisalnya juga turut mengambil bagiannya dan segera menyerapnya sesuai tingkat kebutuhannya. Olehnya, jika sebuah lathifah kekurangan dan kehabisan asupan gizi, maka makrifat itu kurang dan tidak sempurna. dan senantiasa lathifah tersebut akan terus merasakan kekurangan." |
|
Read more...
|
|
endonozyaca Risale i Nur DUNIA MEMBACA RISALAH NUR -1 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra |
|
|
|
|
Written by omer yavuz
|
|
Saturday, 13 February 2010 20:56 |
|
endonozyaca Risale i Nur DUNIA MEMBACA RISALAH NUR -1 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra DUNIA MEMBACA RISALAH NUR Pengarang Risalah Nur Bediuzzaman Said Nursi Selayang pandang Riwayat Hidup dan Karya-karyanya Apa itu Risalah Nur? “Risalah Nur adalah argumen yang luar biasa dan tafsir yang sangat berharga terhadap Al-Qur’an al-Karim. Ia juga merupakan sebuah kilatan yang memukau dari kemukjizatan maknawi Al-Qur’an, setetes dari samudera Al-Qur’an, secercah cahaya dari surya Al-Qur’an, sebuah hakikat yang terilhami dari khazanah ilmu hakikat. Risalah Nur juga merupakan terjemahan maknawi yang bersumber dari limpahan makna Al-Qur'an.” Pengantar Bediuzzaman Said Nursi hidup sezaman dengan Sultan Abdul Hamid II di penghujung masa kesultanan Turki Usmani yang tak lama kemudian runtuh. Beliau juga menyaksikan musuh-musuh Islam bersatu untuk menumbangkan Khilafah Usmaniyyah. Setelah berhasil menurunkan Sultan Abdul Hamid dari kesultanannya, para politisi dari İttihat ve Terakki Cemiyeti (Komite Persatuan dan Kemajuan) mengukuhkan Muhammad Rasyad sebagai sultan dan selanjutnya menyeret Turki Usmani ke dalam Perang Dunia I tanpa alasan yang jelas. Para pemimpin İttihat ve Terakki Cemiyeti kemudian hengkang ke luar negeri meninggalkan umat merasakan pahit-getirnya akibat perang yang membuat negara-negara Islam berada di bawah tekanan kekuatan tentara asing. Sultan Muhammad Wahiduddin kemudian datang di saat negara sedang menderita kalah perang. Inggris, Yunani, Italia dan Armenia telah menguasai beberapa wilayah Turki, bahkan Istambul sendiri berada di bawah pendudukan Inggris. Sejatinya, Sultan telah menjadi tawanan Inggris. Bangsa Turki tak lagi memiliki sesuatu kecuali keimanan mendalam yang mampu menantang angin taufan serta untuk menghindari serangan para musuh dan penjajah. Akhirnya Bangsa Turki kembali bangkit menghimpun kekuatan yang masih tersisa dan akhirnya memutuskan perang pembebasan melawan para penjajah yang kemudian dikenal dengan "Perang Kemerdekaan". Namun, ketika situasi menjadi stabil dan para penjajah berhasil diusir, muncullah sikap permusuhan yang frontal terhadap Islam serta usaha-usaha serius untuk menghapus keimanan yang telah kokoh dari jantung umat. Di sinilah, dalam titik balik sejarah yang genting dalam perjalanan kehidupan umat dan di tengah angin taufan yang mampu mengguncang kehidupan sosial secara menyeluruh, tampillah Bediuzzaman untuk memikul obsesi umat dan mengemban misi penyelamatan iman umat Islam di mana ia telah nazarkan diri untuk tujuan itu, jauh dari gegap gempita kehidupan politik. Ia kemudian menghabiskan waktu dengan menuliskan karya Risalah Nur-nya dan menyebarkannya dalam kondisi yang serba sulit demi menyiapkan sebuah masyarakat islami yang utuh dan sarat vitalitas dan keimanan. |
|
Read more...
|
|
|
endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-5 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra |
|
|
|
|
Written by omer yavuz
|
|
Saturday, 13 February 2010 20:50 |
|
endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-5 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra Kemudian musafir yang datang ke bumi, yang mencari siapa penciptanya, yang telah menaiki delapan belas martabat, yang telah menaiki sebuah maqam mukhatabah (dialog) dari maqam makrifah yang bersifat gaib dengan mi’raj iman yang mencapai arasy hakikat berkata kepada ruhnya sendiri: Sebagaimana dari awal Surat al-Fatiha sampai ke kalimat إيَّاكَ mendatangkan ketenangan dengan pujian dan sanjungan secara gaib dan menaiki maqam mukhatabah (dialog), kita juga secara langsung meninggalkan pencarian secara gaib dan menanyakan apa yang kita cari dari Dzat yang kita cari. Selayaknya menanyakan tentang matahari yang menyinari segala sesuatu kepada matahari itu sendiri. Benar, matahari yang menyinari segala sesuatu menunjukkan dirinya lebih dari sesuatu yang lain. Jadi sebagaimana kita mengenal dan melihat matahari melalui sinarnya, begitu juga semampu mungkin kita berusaha mengenal pencipta kita melalui Asmaul Husna dan sifat-sifat suci-Nya. Kami akan jelaskan secara global dan singkat mengenai dua jalan dari jalan-jalan tak terhingga untuk tujuan ini, dua martabat dari martabat-martabat yang tak terbatas dari dua jalan tersebut, hanya dua hakikat dari banyak hakikat dan perincian panjang dari dua martabat tersebut pada risalah ini: Hakikat pertama: terlihat hakikat fa’aliyah mustauliyah (aktif dan menguasai) yang terlihat oleh mata, menguasai, permanen, teratur, dahsyat, mengatur semua makhluk yang ada di bumi dan langit, menggantikan dan memperbaharuinya dan menguasai alam semesta. Secara jelas terasa hakikat penampakan Rububiyyah dalam hakikat fa’aliyah yang bijaksana pada setiap sisinya. Diketahui hakikat penampakan Uluhiyyah (ketuhanan) dalam penampakan Rububiyyah yang menyebarkan rahmat pada setiap sisinya. Demikianlah dirasakan seperti terlihat tindakan Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui yang bertindak dari perbuatan-Nya permanen secara bijaksana, bersifat mutlak dan di balik tirainya. Diketahui secara jelas pada tingkat perasaan asma Ilahi yang memiliki penjelmaan pada setiap sesuatu dari tindakan-tindakan rabbani secara mendidik, teratur dan di balik tirainya. Dapat diketahui keberadaan dan kenyataan asmaul husna yang terjelma dengan keagungan dan keindahan, dan tujuh sifat suci di balik tirainya pada tingkat ilmul yaqin, ainul yaqin bahkan haqqul yaqin. Melalui tujuh sifat suci ini dengan kesaksian seluruh makhluk diketahui secara pasti seolah terlihat pada mata iman yang berada di hati dalam bentuk lebih jelas dari matahari dan lebih terang keberadaan sifat-sifat Wajibul Wujud, nama-nama Wahid, Ahad dan Perbuat Tunggal lagi Shamad secara jelas dan ilmul yaqin dengan penjelmaan tak terhingga dalam bentuk ‘’hidup, qudrah (kekuasaan), ilmu, mendengar, melihat, kehendak dan kalam’’. Karena sebuah buku yang indah dan bermakna, sebuah rumah yang teratur memerlukan secara jelas tindakan menulis dan membuat; menulis dengan indah dan membuat dengan teratur juga secara jelas memerlukan gelar penulis dan tukang bangunan; gelar penulis dan gelar pembangun secara jelas memerlukan seni dan sifat-sifat penulisan dan petukangan; seni dan sifat-sifat ini secara jelas memerlukan satu Dzat bahwa Dia memiliki sifat-sifat, nama-nama dan menjadi pembuat dan perbuat. Sebagaimana tidak mungkin sebuah tindakan tanpa pembuat, sebuah nama tanpa pemiliknya, begitu juga sebuah sifat tanpa pemiliknya dan sebuah seni tanpa senimannya. Berdasarkan hakikat dan kaidah ini, alam semesta ini dengan seluruh makhluknya merupakan buku, surat, bangunan dan istana tak terhingga dan bermakna yang ditulis dengan pena taqdir, dibuat dengan palu qudrah (kekuasaan). Sebagaimana masing-masing makhluk dengan ribuan aspek bersaksi dan mengisyaratkan kemutlakan eksistensi dan keesaan Dzat Agung Azali dan Abadi yang menjadi tambang tujuh sifat yang universal dan suci dengan penjelmaan tak terhingga dari tujuh sifat shubhani yang menjadi sumber nama-nama-Nya yang indah dan dengan penjelmaan tak terhingga dari seribu satu nama Allah SWT yang merupakan sumber tindakan rabbani dan rahmani, begitu juga semua keindahan, nilai, kesempurnaan yang ada di alam semesta bersaksi secara jelas atas tindakan-tindakan rabbani, asma Ilahi, sifat-sifat shamadani, dan fungsi-fungsi subhani sesuai dengan keindahan dan kesempurnaan Dzat suci. Demikianlah hakikat Rububiyyah yang terjelma dalam hakikat fa’aliyah menunjukkan dan memperkenalkan keberadaan, tindakan, dan perbuatannya seperti penciptaan dengan ilmu dan hikmah; taqdir, pembentukan, pengaturan, dan perubahan dengan keteraturan dan keseimbangan; tranformasi, perubahan, penurunan, dan penyempurnaan dengan kesengajaan dan kehendak; pemberian rezeki dan nikmat, ihsan dengan kasih sayang dan rahmat. Hakikat penjelmaan Uluhiyyah yang dirasakan secara jelas di dalam hakikat penjelmaan Rububiyyah juga memperkenalkan dan memberitahukan dirinya dengan manifestasi asmaul husna yang menjelma dalam kasih sayang dan kemurahan hati dan manifestasi sifat-sifat ‘’hidup, berilmu, qudrah, kehendak, mendengar, melihat dan kalam’’ yang merupakan tujuh sifat shubutiyyah secara agung dan indah. Benar, sebagaimana sifat kalam memperkenalkan Dzat Suci melalui wahyu dan ilham, begitu juga sifat qudrah memberitahukan Dzat Suci itu melalui karya-karya seni yang merupakan kalimat jasmani dan menunjukkan setiap sisi alam semesta sebagai benda-benda furqani seraya mensifati dan memperkenalkan Dzat Yang Maha Kuasa dan Agung. Sifat berilmu juga memberitahukan Dzat Suci yang Tunggal yang memiliki sifat sebanyak semua makhluk yang bijaksana, teratur, terukur dan seluruh makhluk yang diatur dengan ilmu, diurus, dihias, dan dibedakan dengan yang lain. Adapun mengenai sifat hidup, karya-karya yang memberitahukan qudrah, semua bentuk dan hal yang teratur, bijaksana, terukur, dan terhias yang memberitahukan keberadaan ilmu, dan semua bukti yang memberitahukan sifat-sifat yang lain bersama bukti-bukti sifat hidup menjadi bukti bagi kenyataan sifat hidup. Sifat hidup juga dengan bukti-buktinya memberitahukan Dzat Hayy Qayyum (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri) melalui kesaksian seluruh makhluk yang merupakan cerminya. Dia merubah alam semesta menjadi cermin terbesar yang selalu dirubah, diperbaharui dan terdiri dari cermin-cermin tak terhingga untuk menunjukkan penjelmaan dan pahatan yang baru dan berbeda-beda pada setiap waktu. Dengan pertimbangan di atas, sifat melihat, mendengar, kehendak dan kalam juga masing-masing sebesar alam semesta memberitahukan dan memperkenalkan Dzat Suci. Sebagaimana sifat-sifat di atas membuktikan keberadaan Dzat Agung, begitu juga membuktikan secara jelas keberadaan kehidupan dan kenyataannya dan Dzat SWT. hidup. Karena mengetahui adalah tanda kehidupan; mendengar adalah isyarat untuk kehidupan; melihat adalah khusus bagi yang hidup; kehendak terjadi dengan adanya kehidupan. Kekuatan dengan kehendak ada pada makhluk hidup, adapun sifat berbicara merupakan sebuah perkara bagi makhluk hidup yang mengetahui. Demikianlah, dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sifat hidup memiliki bukti-bukti sebesar tujuh kali lipat alam semesta dan dalil-dalil yang memberitahukan keberadaan dirinya dan yang dia sifati bahwa menjadi dasar dan sumber Ismul A’zham (Nama Agung) bagi semua sifat-sifat. Karena Risalah Nur telah membuktikan dan menjelaskan hakikat pertama ini dengan bukti-bukti kuat, maka sekarang kami mencukupi pembahasan ini dengan tetesan yang disebut di atas dari laut. Hakikat Kedua, kalam Ilahi yang bersumber dari sifat Kalam قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي (Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, Al-Kahfi: 109) dengan rahasia ayat ini kalam Ilahi tak terhingga. Berbicara merupakan tanda yang paling jelas untuk memberitahukan keberadaan seseorang. Jadi hakikat ini bersaksi mengenai keberadaan dan keesaan Maha Berbicara Azali dalam bentuk tak terhingga. Karena dua kesaksian kuat dari hakikat ini adalah wahyu dan ilham yang dijelaskan pada tingkat ke-14 dan 15 pada risalah ini, sebagai kesaksian yang luas adalah kitab-kitab samawi yang suci telah dibahas pada tingkat ke-10 dan kesaksian lain yang sangat terang dan luas adalah al-Qur’an yang dibahas pada tingkat ke-17, maka kami menyerahkan penjelasan dan kesaksian hakikat ini kepada tingkat-tingkat itu dan cahaya-cahaya dan rahasia-rahasia dari ayat besar ini (perlu ditulis lafaz ayat) “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran [3]: 18). |
|
Read more...
|
|
endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-4 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra |
|
|
|
|
Written by omer yavuz
|
|
Saturday, 13 February 2010 20:48 |
|
endonozyaca Risale i Nur Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran)-4 risalah nur Molla Bediuzzaman Said Nursi Indonesian endonezce ayetul kubra Kemudian, musafir dunia itu berkata kepada akalnya “Selama aku mencari raja dan penciptaku melalui makhluk-makhluk alam semesta, tentu saja pertama-tama pergi ke ‘abad kebahagiaan’ bersama engkau untuk mengunjungi Muhammad SAW yang paling terkenal di alam semesta, yang paling sempurna dengan persetujuan musuh-musuhnya, komandan yang paling besar, raja yang termasyhur, paling tinggi ucapannya, dan yang paling bercahaya akalnya menerangi 14 abad dengan fadhilahnya dan al-Qur’an dan menanyakan kepadanya apa yang saya cari”. Dan dia telah masuk bersama akalnya dan melihat bahwa: Abad itu secara hakikat menjadi masa kebahagiaan umat manusia dengan pribadi Nabi SAW. Karena dia mampu merubah sebuah kaum yang paling primitif dan buta huruf menjadi guru dan pemimpin bagi dunia dalam waktu yang singkat melalui cahaya yang dia bawa. Musafir berkata kepada akalnya lagi “Kami terlebih dahulu perlu mengetahui nilai pribadi Nabi SAW yang luar biasa ini, kebenaran ucapan-ucapan dan berita-berita yang dia bawa dan setelah itu bertanya mengenai pencipta kita”. Sambil mengucapkan perkataan ini, dia mulai menelaah. Dijelaskan 9 hal dari bukti-bukti pasti yang dia dapat. Pertama, semua sifat baik dan akhlak terpuji ada pada pribadi ini (SAW) dengan pengesahan musuh-musuhnya. Terjadi ratusan mukjizat di tangannya dengan naqli qat’i (pasti) dan mutawatir seperti terbelahnya bulan menjadi dua bagian dengan menunjuk jarinya yang dijelaskan pada ayat وَانشَقَّ الْقَمَرُ (Dan telah terbelah bulan, QS. Al-Qamar: 1), sedikit tanah yang dilemparkan oleh tangannya kepada pasukan musuhnya masuk mata mereka dan mereka lari dijelaskan pada ayat: وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـكِنَّ اللّهَ رَمَى (Dan bukan kamu yang melempar, tetapi Allah-lah yang melempar, QS. Al-Anfal: 17), ketika pasukannya sendiri kehausan memberikan air secukupnya bagaikan air kausar dari lima jarinya. Karena lebih dari 300 mukjizat telah dijelaskan pada sebuah risalah yang luar biasa dan berkaromah yang disebut Mukjizat Muhammad SAW., sang musafir telah menyerahkan masalah mukjizat kepada pembahasan tersebut dan berkata: “Pribadi SAW. yang memiliki akhlak mulia dan akhlak sempurna, begitu banyak mukjizat-mukjizat, tentu saja dia berbicara dengan benar. Tidak mungkin dia mencoba penipuan, kebohongan, dan kesalahan yang merupakan pekerjaan orang-orang yang tidak bermoral. Kedua, terpegang erat di tangannya sebuah firman pemilik alam semesta, firman itu diakui dan disetejui oleh lebih dari tiga ratus juta manusia pada setiap abad dan firman itu, al-Qur’an, memiliki keluarbiasaan dengan tujuh aspek. Karena 40 aspek kemukjizatan al-Qur’an dan ia merupakan kalam Pencipta alam semesta dijelaskan secara rinci pada sebuah risalah terkenal yang merupakan salah satu matahari Risalah Nur yang disebut Mukjizat al-Qur’an dengan bukti-bukti kuat. Risalah ini terdapat pada kalimat ke-25 dari buku berjudul al-Kalimat. Sang musafir menyerahkan topik ini kepada risalah-risalah tersebut dan berkata: ‘’Tidak ada kebohongan yang merupakan tindakan kriminal terhadap firman dan penghianatan terhadap pemilik firman pada pribadi yang merupakan penerjemah firman yang penuh hakikat dan penyampai firman tersebut’’. |
|
Read more...
|
|